Cerita Malam Pertama Akibat Perjodohan yang Hot

*Cerpen ini lanjutan dari part I : Malam Pertama Pengantin Baru

Mereka bilang malam pertama sependek cerpen yang bisa kau baca sekali duduk. Namun kenangan yang mendesak di ujung hatimu lebih dari itu, ia mengikuti. Malam pertama menjadi novel yang teramat panjang  untuk diselesaikan.

Kudengar tamu mulai raib dari rumah orang tuamu. Hanya ada suara anggota keluarga dekat di luar, sedikit kuintip dari balik jendela. Mereka tertawa lepas setelah resepsi pernikahan kita. Kudengar juga sedikit suara ehem-ehem. Aku menduga Jeni sudah tau maksudnya. Kubuka pintu dan mencoba menemani mereka.

Ada saja yang keluargamu tanyakan. Mulai awal perkenalan kita hingga bagaimana akhirnya kau memilihku. Tapi mereka tidak pernah bertanya bagaimana sehatnya janin di perutmu. Mereka maklum.

Malam Pertama Yang Sweet

Jam 11 lewat. Obrolan kami selesai. Ku kira kau sudah tidur pulas. Tapi tidak. Kau menungguku, lelaki yang tak terlalu tampan dan sekarang menjadi suamimu.

Tidak seperti pertama berjumpa. Aku mencuri pandang. Sesekali tunanganmu memperhatikanku. Tapi tak mengapa mungkin ia mengira aku pacar Wina, sahabat kita. Dan semua berlalu hingga aku juga belum terlalu mengerti bagaimana akhirnya kau menjadi istriku.

Jeni memberiku kecupan manis di pipi. Tak romantis memang namun itu tetap berharga. Lalu kau tersenyum dan bercerita bagaimana senangnya malam ini. Kau banyak bercerita tentang masa lalumu tak ubahnya suara penyiar radio paling sweet di dunia, aku mendengar dengan seksama. Malam pertama itu kita bahagia, kita jatuh cinta untuk kesekian kalinya meski kita tidak bercinta.

Dan sisa malam pertama ini mungkin akan jadi sekedar sejarah.

Pertemuan dengan Ine

Ine memanggilku dengan suara yang teramat manis. Gadis berjilbab itu memiliki raut muka ceria. Tatapanya begitu menyejukan hingga kau bisa terbawa ke dalamnya. Berbincang dengan Ine benar-benar merajuk kisah malam pertamaku dengan Jeni.

Pertemuan pertama kami saat di kantin perusahaan. Dan hari-hari bekerja lebih menggairahkan. Mirip  saat pertama jatuh hati dengan kakak tingkat dulu. Aku mencuri pandang dari kejauhan dan berharap ia melihat disana ada seorang lelaki yang mungkin sedang jatuh cinta.

Namun saat ini situasinya berbeda. Aku seorang lelaki beristri, ada anak satu tahun yang setia menyambut kepulanganku.  Dan aneh memang, keberanianku terhadap wanita justru muncul setelah pernikahan.

Aku berpapasan dengan Ine, kulemparkan sedikit senyum, ia membalas. Di hari lain kami mengobrol ringan. Saat itu aku berharap menjadi Rudi yang dulu. Lelaki lugu yang tak pernah mengenal cinta. Dan di hari berikutnya kami mengobrol lebih akrab, di hari selanjutnya kami jauh lebih dekat.

Makan siang bersama menjadi rutinitas. Aku kawatir jika ia tidak bekerja, cepat kuhubungi apa Ine sakit atau ada urusan mendesak. Kadang aku mampir kerumahnya, sekedar membawakan kue kering atau strawberry. Ia menyukai buah yang konon bisa melembutkan kulit ini. Entah mitos atau bukan, tapi aku percaya. Lihatlah kulit wanita ini, begitu cerah, mengalahkan pesona sinar matahari pagi.

Aku berusaha sekuat tenaga mengimbanginya. Jeni tidak curiga meski aku berdandan lebih rapi dari biasanya. Di hadapan istriku itu, diri ini masih tampil romantis. Selalu kucium keningnya ketika berangkat kerja, kugendong anak semata wayang kami. Jarang sekali aku pulang malam. Mungkin hanya satu dua kali saat Ine mengajak makan.

Bagi Ine, mungkin aku pria baik-baik. Sebetulnya ia juga tahu posisiku. Ia menganggapku seperti kakaknya. Teman curhat yang rutin menjadi pendengar setia. Aku juga sadar, Ine masih memiliki kekasih meski tak harmonis. Mereka LDR dan hanya menunggu waktu untuk mengucapkan kata pisah. Dan di saat hubungan mereka semakin renggang, Ine semakin dekat denganku.

Kami lebih sering jalan bersama. Kadang kami menonton film terbaru seperti pasangan yang sedang bulan madu. Jujur aku belum pernah honeymoon. Hubunganku dengan Jeni selalu berakhir di ranjang, tanpa perjalanan berliku dan ketegangan. Dan perempuan ini membuat usiaku jauh lebih muda. Ia membuat cinta menjadi sesuatu yang menakutkan sekaligus menyenangkan.

Cerita-Cinta-Perjodohan-Malam-Pertama

Cerita Cinta Perjodohan Malam Pertama

Setelah desas desus hubunganku dengan Ine beredar, aku curhat pada Wina. Dia satu-satunya teman yang kupercaya. Aku yakin ia tidak akan bercerita pada Jeni. Wina sebetulnya marah mendengar pengakuan itu. Namun ia diam saja ketika kunyatakan, Seorang pria memang selalu penasaran dengan keperawanan.

Sejak itu sepertinya Wina mengacuhkanku. Ia bahkan tak menoleh saat melihatku berbincang dengan Ine. Situasi ini nampak canggung. 10 tahun lebih aku mengenal Wina dan ia memang tidak seperti biasanya. Tapi pikiranku tentang Wina cepat menghilang. Aku mulai benar-benar menyukai Ine. Ia juga begitu.

Aku benar-benar tidak paham bagaimana kisah ini akan terus berjalan. Kami sepakat untuk menikmatinya saja. Hubungan ini masih sebatas jalan bareng, makan dan kuantarkan Ine pulang. Tidak lebih. Apa aku ingin segera menikmati tubuhnya? Mungkin iya. Namun semua godaan itu kutahan. Aku juga tidak seratus persen yakin akan apa yang kulakukan.

Dan di saat galau itu, aku merasa harus kembali ke Wina. Sudah beberapa hari kami tidak bertegur sapa.

Kuketuk pintu kamar kos Wina. Ia ada di dalam dan mempersilahkan masuk. Ada yang tak biasa dari Wina. Tak nampak seperti perempuan yang ku kenal sejak lama. Tapi ia masih tersenyum menyambutku, jauh dari sikap dinginya saat bertemu di tempat kerja. Kemudian ia bertanya sinis, bagaimana hubungaku dengan Ine. Kujawab baik-baik saja sambil tersenyum kecil yang kembali ia balas dengan wajah tidak mengenakan.

Kemudian Wina berbalik badan dan mengambil sesuatu dari tas berwarna coklat. Ia memperlihatkan undangan. Aku terdiam, itu undangan pernikahanya. Sedikit heran, tapi aku juga senang sahabatku akan melepas lajang. Ku ucapkan selamat, kulihat lagi undangan itu, pernikahan di lakukan di tempat yang jauh dari kota ini. Sepertinya itu daerah asal calon suaminya. Oke tak masalah, aku akan tetap datang bersama Jeni.

Wina lantas tersenyum kecil, menatapku, ia bilang akan mengikuti suami. Artinya ini hari-hari terakhir melihat Wina. Lalu perempuan ini mendekat, di sampingku, ia meraih tubuhku dan mencium bibirku. Terus terang aku bingung. Aku sedikit mengelak, ia nampak memaksa. Penisku mulai menegang, Wina meremasnya dari balik celana. Benar, aku tidak tahan.

Ciuman kami semakin panas. Ia melepas kaosnya. BH itu berwarna hitam. Terlihat berseberangan dengan kulit putih Wina. Perempuan yang lama kukenal tersebut juga tak ragu melepas bra-nya. Ada bagian diriku yang berkata tidak, namun respon selangkangan berkata lanjutkan. Jujur, tak kusangka Wina seberani itu. Aku juga salah kira, payudara Wina ternyata lebih besar dari istriku. Mungkin sekitar 36 D dan nampak padat.

Cerita-Cinta-Perjodohan-Malam-Pertama

Kami meneruskan french kiss. Tangan ini mulai meremas bagian intim sahabatku itu. Badanya hangat. Ia nampak menikmati. Kuhentikan ciuman untuk sementara untuk memandangi tubuh yang menggairahkan ini. So sexy. Wina memanduku ke payudaranya. Aku menyusu. Entah kenapa pria selalu menyukai bagian tubuh wanita ini. Mungkin karena kami tidak memilikinya atau nostalgia hasrat purba. Payudara adalah tempat yang aman, sumber kehidupan saat manusia belum bertemu bahasa sosial.

Jemariku tak mau berhenti, kuremas bagian sebelah. Sedikit kupelintir punting yang nampak memerah itu. Wina teramat pasrah. Kulihat ia memejamkan mata. Kucium lagi bibirnya sambil terus kuremas tempat persusuan itu. Kulepaskan bajuku, kubuka celana Wina. Semuanya. Kelamin Wina terlihat berkilauan, basah. Bulu-bulu tipis menutupi liang persembunyian anak-anak kelak. Aku tak menciumnya. Bukan berarti jorok. Hanya memang aku tak suka posisi sex macam itu.

Aku naik keatas tubuh Wina, kugesekan kepala kemaluanku. Rasanya nikmat sekali. Ia tak berkata. Matanya sedikit terbuka. Kami bercium. Kutuntun saluran spermaku tepat di lubang vagina Wina. Aku menekanya namun Wina nampak kesakitan. Berulang kali kucoba. Gagal. Gua itu seperti tertutup bebatuan besar dan kau harus mengeruknya perlahan.

Kukatan padanya, “Win, kita tak perlu melakukan ini”.

Wina memeluku dan berkata tidak apa-apa. Lalu coba kutekan lagi. Sudah masuk setengah. Dan setengah perjalanan lagi usahaku sampai. Aku juga tak kawatir alat vital ini akan melemah, tak mampu ereksi dan ejakulasi dini. Beberapa bulan ini aku rutin memakai obat kuat oles. Jeni yang menyarankan. Bahkan ia memesankan Titan gel untuku. Itu merk pembesar mr.p.

Dan perjalanan menuju rahim Wina tak sia-sia. Aku memasuki tubuhnya dengan sempurna. Tubuh kami bergoyang pelan. Pinggulku naik turun mengikuti suara alam di dalam sana. Wina masih nampak meringis. Ia nampak sakit. Kucabut alat vitalku. Ada sedikit bercak merah. Aku baru sadar Wina masih perawan. Setahuku ia terakhir kali berpacaran awal kuliah dulu. Sangat singkat.

Kesadaranku musnah. Entahlah pikiranku terbang kemana. Wina kembali memeluku. Ia memegang senjata terbaiku dan memasukan ke lubang ternikmatnya. Kami dalam posisi duduk. Orang menyebut gaya bersetubuh ini dengan the amazon. Wina memandangku, ia mencium pipiku. Dengan tatapan sedikit sayu, air matanya menetes pelan. Ia bilang menyukaiku. Sudah sangat lama. Aku tertegun. Kupeluk Wina dengan erat. Ranjang ini bergoyang dengan lebih cepat. Kami mendesah bersautan. Keringat kami bercampur menjadi satu. Sebelum perkawinan Wina kutitipkan sperma dalam rahimnya.

*

Setelah kejadian itu aku paham kenapa Wina dulu mengajaku bertemu Jeni. Ia ingin kutemani bukan sekedar sebagai teman. Sebelum berpisah, Wina datang kerumah mengucapkan salam perpisahan pada Jeni. Ia banyak bercerita tentang suaminya. Wina tak terlalu menyukai pria itu. Pengakuanya, pernikahan tersebut hanya perjodohan. Jeni nampak kecewa dan berpesan harusnya Wina menikahi lelaki yang benar-benar ia cintai. Perjodohan adalah hal usang.

Wina sekilas meliriku, aku tersenyum kecil. Bukan cerita cinta yang kubayangkan tapi apa yang harus di katakan Wina saat malam pertama pada suaminya. Dengan Wina aku merasakan segalanya, termasuk bagaimana bersetubuh dengan perawan. Namun begitulah, kau bisa memilih menikah dengan pria mana, tapi tak pernah tahu akan kau jatuhkan hatimu pada siapa.

Aku tak tahu pasti apa nanti akan datang ke pernikahan Wina. Aku yakin Jeni memaksa. Tapi sakit melihatnya.

**

Dan sejak Wina tidak ada, suasana kerja jadi lebih sepi. Tidak ada lagi yang menasihatiku dengan sok dewasa, tak akan muncul lagi ejekan lucu itu saat kita makan berdua, aku berada di tempat ramai tapi merasa sepi. Itu baru terjadi kali ini.

Hubunganku dengan Ine juga merenggang. Aku sedikit menjauhinya. Tampaknya Ine juga mengerti dengan sikapku saat itu ….

Baca lanjutanya ke halaman : CERPEN MALAM PERTAMA YANG LUCU